Sabtu, 24 Desember 2016

Pentingnya Bimbingan Orang Tua

 Pentingnya Bimbingan Orang Tua

Menanggapi opini yang dimuat Tribun Jateng pada Jumat, 23 Desember 2016 oleh Tri Pujiati seorang Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan judul "Ibu, Televisi dan Generasi Internet". Lewat opini yang ditulis penulis, saya merasa sependapat dengan pemikiran penulis bahwasannya acara televisi beberapa tahun ini lebih mementingkan ratting daripada mutu dan manfaat yang didapat. Seperti yang kita tahu bahwa acara televisi sekarang lebih sering menayangkan acara-acara yang kurang bermanfaat contohnya sepetri sinetron, berita gosip, dan lain sebagainya yang menurut saya hanya semakin memperkeruh keadaan sekarang. Bagaimana tidak memperkeruh dengan adanya acara seperti sinetron dan berita gosip hanya akan membuat kita menjadi pribadi yang dramatis dan bermental lemah, bahkan lebih parah lagi menjadikan kita sebagai pribadi yang "ingin tahu" segala urusan orang lain.

Acara sintentron dan berita gosip hanya akan menjadikan kita terlalu asyik berkhayal dengan dunia yang kita ciptakan sendiri. Acara-acara tersebut tentunya akan membuat dampak-dampak yang negatif juga bagi perkembangan mental dan pikiran anak usia dini, mungkin benar yang hanya dipikirkan oleh sebagian dari "mereka" yang penting ratting naik, dengan ratting naik maka akan semakin banyak iklan yang juga akan semakin menaikkan pendapatan "mereka" dan masalah manfaat bagi penonton adalah nomor sekian.

Kita juga tahu bahwa belakangan ini kita kekurangan acara televisi yang menampilkan banyak acara untuk anak, acara yang sesuai porsi anak, acara yang mengedukasi, acara yang akan membuat pemikiran anak menjadi berkembang, acara yang membuat orang tua tidak was-was saat sang buah hati menonton acara televisi dengan tidak mendapat pantauan dari para orang tua. Mungkin benar jika sekarang peran para orang tua harus lebih selektif dalam memilih segala tontonan untuk sang anak.

Kita juga paham pekrembangan zaman yang mungkin juga ikut berperan menjadikn acara pertelevisian kita juga ikut berubah, jika dahulu ketika saya kecil saya masih sering menonton acara-acara seperti cerita lagenda-lagenda lokal yang dikartunkan sesuai porsi anak-anak yang tentunya memberikan dampak dan nilai positif. Bandingkan dengan sekarang yang lebih banyak menyajikan acara-acara sinetron yang penuh konflik yang hanya akan semakin menumpulkan pemikiran anak-anak yang harusnya sedang masa berkembanng, yang lebih dikhawatirkan lagi jika hal tersebut malah menjadikan anak-anak meniru sedikit banyak dari sifat negatif yang mereka tonton, tentunya sangat miris bukan.

Masa sekarang masyarakat juga lebih memilih televisi yang sudah sangat jelas menyampaikan segala informasi dengan bentuk suara, tulisan, beserta visual, berbeda dengan media lain seperti radio, surat kabar, atau majalah yang hanya menampilkan suara saja , atau tulisan dan visual saja. Seperti yang penulis sampaikan bahwa Berdasarkan hasil survie yang dilakukan oleh Nielsen Audience Measurement pada 2012 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang menonton televisi mencapai 95%.kemudian disusul Internet dengan. 33%, radio 20%, surat kabar 12%, tabloid 6%, dan majalah 5%. Tentu sudah sangat kentara pernbedaannya.

 Belum selesai dengan acara televisi yang semakin jauh untuk porsi anak-anak, hadir juga perkembangan internet yang semakin canggih dan terbuka untuk siapa saja, segala usia, baik pria maupun wanita juga dapat dengan mudah menggunakannya. Mengakses dan berselancar di dunia maya dengan bebas. Tentunya hal ini harus menjadi perhatian juga bagi orang tua untuk mengawasi anak-anaknya agar tidak salah dalam mencari segala informasi yang ada pada internet.

Berbeda dengan acara televisi dan internet, saya masih ingat beberapa waktu lalu ketika saya sedang duduk dirumah saya mendengar adik sepepu saya yang masih dibilang sangat dini juga menyanyi sebuah lagu yang samar-samar terdengar menurut saya sangat belum pantas dinyanyikan oleh anak seusianya, bagaimana bisa seorang anak berusia 3 tahun menyanyikan lagu tentang cinta dan patah hati, tentunya membuat saya kaget dan langsung menanyakan hal itu dengan mamak saya, kenapa bisa adik sepupu saya bisa menyanyikan lagu seperti itu yang saya juga sangat yakin bahwa dia belum tahu maknanya. Saya cukup kaget dan merasa kecolongan. Setelah saya amati ternyata yang membuat adik sepupu saya bisa menyanyikan lagu seperti itu juga karena lingkungan sekitar tempat adik sepepu saya bermain, banyak juga anak-anak kecil seusia SD, SMP juga sering menyanyikan lagu-lagu seperti itu, apa mungkin adik sepupu saya juga terbawa arus teman sepermainan? Atau mungkin kurangnya pengawasan dari orang tua? Atau karena anak seusia adik sepupu saya sedang masa-masanya berkembang sehingga mengikuti apa saja yang dia dengar dan pelajari sendiri karena belum tahu yang mana yang boleh dan yang mana yang tidak boleh, mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Terlepas dari itu semua, peran orang tualah yang sangat penting untuk menanamkan sejak dini pola pikir anak-anak mereka, sebisa mungkin atau bahkan harus orang tua mengawasi dan memberi pemahaman segala bentuk tontonan yang pantas sesuai porsi anak-anak, mengawasi dan memberi pemahaman segala bentuk lagu-lagu yang pantas sesuai porsi anak-anak, orang tua juga perlu mengawasi, memberi pemahaman, dan bahkan memberi pantauan terhadap keseharian sang anak agar segala bentuk tindakan dan perilakunya sesuai dengan porsi anak itu sendiri. Sekian, semoga bermanfaat.


-Indah Tri Wulan, Mahasiswa Universitas PGRI Semarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar