Ujian Nasional Punya Cerita
Saya akan menanggapi tulisan
Setia Naka Andrian "Menimbang (Ketiadaan) UN" mungkin dibalik tentang
ada tidaknya Ujian Nasional yang semakin gencar terdengar akhir-akhir ini, kabar
ini tentunya sangat mengejutkan bagaimana tidak Ujian Nasional yang
digadang-gadang menjadi momok menakutkan bagi kebanyakan murid dan orang tua akan
dihapuskan.
Banyak pro dan kontra dikalangan masyarakat
tentunya tentang kebijakan ini, menurut pendapat saya dari apa yang telah saya
alami, sekolah tempat saya dulu mengenyam pendidikan di jenjang SD, SMP, SMA
gencar melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pembelajaran ketika hendak
berhadapan dengan Ujian Nasional, mulai dari tambahan jam ke-0 yang dimulai
dari pukul 06.00 pagi sampai ada tambahan les sore setelah jam pelajaran di
sekolah saya berakhir. Ada juga kuis yang disediakan oleh guru mata pelajaran masing-masing
untuk mengerjakan soal-soal ujian tahun lalu dari mata pelajaran yang akan di
ujiankan. Ada juga agenda seperti doa bersama yang dilakukan oleh pihak sekolah
dan murid-murid yang akan melaksanakan Ujian Nasional. Hal ini tentunya sudah
menjadi agenda tahunan dari waktu ke waktu, yang membuat para siswa juga
menghabiskan banyak waktu di Sekolah, belum lagi setelah di rumah pun banyak
siswa yang juga belajar mati-matian untuk belajar demi mempersiapkan Ujian Nasional.
Betul juga yang diampaikan Setia
Naka Andrian yang mengatakan bahwa menjelang Ujian Nasional kita kekurangan
waktu bermain, kekuranga waktu mengaji bagi yang masih ikut mengaji seperti di
TPQ atau Madrasah, bagaimana tidak kegiatan kita banyak dihabiskan di sekolah
guna mengejar tambahan-tambahan mata pelajaran yang akan di ujiankan bahkan
sampai petang, jika sudah begitu tubuh sudah terasa lelah menjelang malam hari,
dan otomatis mungkin akan beristirahat dan memfokuskan untuk besok harinya
dengan kegiatan yang sama. Bagaimana kita akan bermain jika waktu kita tersita
banyak di Sekolah, bagaimana kita akan mengaji jika waktu mengaji kita
tergantikan oleh jam-jam tambahan di Sekolah yang kebanyakan sampai menjelang
petang. Banyak juga murid-murid yang stres dan bahkan sakit karena terlalu
berpikir keras tentang Ujian Nasional yang menjadi titik akhir dalam suatu
pendidikan yang ditempuh bertahun-tahun dan hanya digantikan dalam waktu 3-4 hari.
Parahnya lagi banyak murid yang mungkin sangat khawatir jika tidak lulus hingga
mengambil berbagai cara seperti membeli kunci jawaban Ujian Nasional dan
mendatangi orang-orang (yang mengaku pintar) guna mendapat pencerahan yang
perlu dipertanyakan kejelasannya. Hal ini tentunya sudah menjadi rahasia umum bagi
kita semua, namun dibalik itu semua Ujian Nasional juga menyimpan cerita
masing-masing.
Menurut pendapat saya Ujian
Nasional tetap diadakan hanya saja bukan sebagai penentu standar kelulusan
melainkan menjadi sebuah evaluasi pembelajaran, yang berhak menentukan lulus
atau tidaknya tetaplah sekolah tempat kita mengenyam pendidikan, kiranya begitu
yang bisa saya sampaikan, terima kasih.
-Indah Tri Wulan, Mahasiswa Universitas PGRI Semarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar