Sabtu, 24 Desember 2016

Media Belajar Bisa Datang Dari Mana Saja

Media Belajar Bisa Datang Dari Mana Saja

          Menanggapi Ulasan Pentas Drama Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah yang berjudul “Bahagia Sesaat, Sedih Seterusnya” yang ditulis oleh Dina Noviana Prihandini. Setelah saya membaca esai yang ditulis oleh penulis saya melihat beberapa perbedaan dan kesamaan antara saya dan penulis. Apa yang ditulis penulis sebelum menulis essainya sangat terbuka dan transparan penulis mengungkapkan kegelisahan hatinya mengenai acara yang terlalu lama ngaret dan pelayanan yang kurang memuaskan, karena terjadi antrian di pintu masuk dan kebanyakan mahasiswa berdesak-desakan hingga membuat suasana sangat kurang nyaman dengan beberapa ketegangan antar mahasiswa karena mungkin sudah terlalu lama menunggu dan antusias terhadap pementasan tersebut.

     Pada esai yang ditulis penulis sangat teliti menggambarkan semua properti yang mendukung dalam pementasan Drama Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah seperti dengan menyebutkan gubuk, sungai buatan, awan-awan, rumput beserta pepohonan, dan lain sebagainya ditambah pencahayaan yang semakin menyemarakkan acara pementasan tersebut.

      Penulis juga menceritakan dengan sangat jelas bagaimana cerita awal dalam pementasan Drama Jaka Tarub dengan menjelaskan gambaran seorang kakek yang tengah tertidur di kursi dipan di depan sebuah gubuk yang kemudian mengigau karena memimpikan anak gadisnya yang bernama Nawang Wulan. Penulis juga menggambarkan suasana pada saat cerita itu berlangsung seperti yang tergambar dengan suasana malam saat sang tokoh memandang langit yang terdapat banyak bintang-bintang dan bulan purnama yang sangat indah. Penulis juga menggambarkan pakaian yang dikenakan oleh para tokoh yaitu dengan memakai pakaian tradisional jawa dan make up yang membantu dan menyesuaikan peranan para tokoh.

       Selanjutnya penulis juga sangat teliti saat menceritakan kisah flashback dari dari sang tokoh Jaka Tarub semasa muda dulu yang gemar berburu dan suatu ketika tanpa sengaja saat tengah berburu disungai melihat ketujuh bidadari yang akan turun ke bumi dan hendak mandi di sungai tersebut. Saat ketujuh bidadari itu turun dan mandi tanpa membuang kesempatan untuk mengambil salah satu selendang milik bidadari tersebut, karena sang tokoh sangat menginginkan untuk menikah dengan seorang bidadari.

    Esai yang ditulis oleh penulis selanjutnya menjelaskan saat sang tokoh kemudian berhasil mengambil selendang milik salah satu bidadari bernama Nawang Wulan yang kemudian akhirnya menjadi istri sang tokoh dan kemudian memiliki anak hasil buah cinta mereka yang diberi nama Nawangsih.
Esai yang ditulis oleh penulis juga menceritakan adanya tokoh baru bernama Tomo dan Topo yang mengocok perut, sayangnya tidak dijelaskan lebih rinci kenapa tokoh tersebut dapat mengocok perut para penonton dan tidak dijelaskan lebih rinci lagi siapa tokoh Tomo dan Topo tersebut sehingga membuat saya sedikit berpikir alangkah lebih baiknya jika gambaran tokoh Tomo dan Topo lebih jelas karena dari cerita sebelumnya penggambaran tokohnya pun juga sangat jelas.

      Selanjutnya penulis menceritakan konflik yang terjadi antara tokoh Jaka Tarub dan Nawang Wulan yang marah dan akhirnya bertengkar hebat akibat tokoh Jaka Tarub tidak menepati janji pada Nawang Wulan saat Nawang Wulan hendak mencuci pakaian dan menitipkan sang anak pada Jaka Tarub dan berpesan bahwa selama Nawang Wulan pergi Jaka Trub tidak diperkenankan membuka tutup panci yang digunakan untuk memasak nasi. Namun karena rasa penasaran tersebut akhirnya tokoh Jaka Tarub membuka penutup panci tersebut dan mendapatkan keanehan dengan cara Nawang Wulan memasak nasi. Hingga akhirnya tokoh Nawang Wulan marah dan kecewa akibat ulah Jaka Tarub yang tidak menepati janji hingga membuat kekuatan Nawang Wulan yang sejatinya seorang bidadari hilang.

      Konflik lain juga disebutkan saat akhirnya Nawang Wulan menemukan selendangnya yang selama ini hilang dan ternyata Jaka Tarub lah yang mengambil selendangnya hingga semakin membuat Nawang Wulan marah dan dengan berat hati meninggalkan Jaka Tarub dan Nawangsih anaknya untuk kembali ke kayangan.
Penulis mengungkapkan konflik yang terjadi kurang menegangkan dan terkesan biasa saja sehingga seperti pertunjukan biasa tanpa konflik. Penulis juga mengatakan bahwa pemain kurang mendalami peran para tokoh. Penulis juga menjelaskan saat saat tokoh Jaka Tarub menangis kurang mendapat perhatian para penonton karena terkesan tidak menjiwai peran menangis, sehingga tidak berhasil menghanyutkan para penonton pada cerita tersebut. namun penulis mengatakan bahwa seluruh pementasan Drama Jaka Tarub sudah sangat bagus mengingat memang tidak mudah untuk memerankan seorang tokoh dalam suatu pementasan.

        Selanjutnya penulis juga memberikan gambaran tentang pementasan Monolog Balada Sumarah, diawal cerita penulis juga mengungkapkan saat seorang permpuan berada didalam kotak kayu yang mengagetkan para penonton karena keluar dengan tiba-tiba disertai teriakan yang memilukan. Penulis juga menuliskan bagaimana ekspresi tokoh Sumarah yang terkesan seperti menahan amarah yang menggelora. Sayangnya penulis tidak menjelaskannya secara rinci.

      Esai yang ditulis oleh penulis tentang Monolog Balada Sumarah juga cukup jelas menggambarkan seorang perempuan bernama Sumarah yang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi yang mendapatkan perlakuan kurang baik dari lingkungan sekitar. Penulis juga menjelaskan bagaimana pemain dengan sangat apik memerankan beberapa tokoh sekaligus dalam cerita tersebut seperti Pak Kasirun seorang guru ngaji yang sudah tua, memerankan nenek-nenek yang tidak mau memberikan Sumarah surat-surat yang dia butuhkan, begitu pun saat memerankan peran sebagai tetangganya yang suka bergosip ria.

     Penulis juga menceritakan kisah Sumarah sebagai seorang TKW yang gajinya tidak dibayar oleh majikannya dan yang lebih menyayat hati saat tokoh sumarah mendapat perlakuan yang kurang baik dan tidak senonoh dari majikannya hingga suatu kemalangan terjadi yang membuat tokoh Sumarah gelap mata dan membunuh sang majikan. Sayangnya penulis kurang menjelaskan hingga akhir cerita saat tokoh sumarah mendapat persidangan atas kasusnya hingga dihukum mati oleh pemerintah Arab Saudi karena terbukti bersalah. Tetapi apa yang ditulis oleh penulis sudah sangat jelas dan baik, bahasanya juga mudah dipahami dan tidak bertele-tele, sehingga membuat pembaca tidak merasa bosan saat membaca esai dari penulis. Semoga sepenggal kisah yang dipentaskan mulai dari Drama Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah dapat memberi nilai-nilai dan pembelajaran positif yang dapat kita ambil didalamnya. Semoga bermanfaat. 

-Indah Tri Wulan, 3D/PBSI Mahasiswa Universitas PGRI Semarang.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar