Media Belajar Bisa Datang
Dari Mana Saja
Menanggapi
Ulasan Pentas Drama Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah yang berjudul “Bahagia
Sesaat, Sedih Seterusnya” yang ditulis oleh Dina Noviana Prihandini. Setelah saya
membaca esai yang ditulis oleh penulis saya melihat beberapa perbedaan dan
kesamaan antara saya dan penulis. Apa
yang ditulis penulis sebelum menulis essainya sangat terbuka dan transparan
penulis mengungkapkan kegelisahan hatinya mengenai acara yang terlalu lama ngaret
dan pelayanan yang kurang memuaskan, karena terjadi antrian di pintu masuk dan
kebanyakan mahasiswa berdesak-desakan hingga membuat suasana sangat kurang
nyaman dengan beberapa ketegangan antar mahasiswa karena mungkin sudah terlalu
lama menunggu dan antusias terhadap pementasan tersebut.
Pada
esai yang ditulis penulis sangat teliti menggambarkan semua properti yang
mendukung dalam pementasan Drama Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah seperti
dengan menyebutkan gubuk, sungai buatan, awan-awan, rumput beserta pepohonan,
dan lain sebagainya ditambah pencahayaan yang semakin menyemarakkan acara
pementasan tersebut.
Penulis
juga menceritakan dengan sangat jelas bagaimana cerita awal dalam pementasan
Drama Jaka Tarub dengan menjelaskan gambaran seorang kakek yang tengah tertidur
di kursi dipan di depan sebuah gubuk yang kemudian mengigau karena memimpikan
anak gadisnya yang bernama Nawang Wulan. Penulis juga menggambarkan suasana
pada saat cerita itu berlangsung seperti yang tergambar dengan suasana malam
saat sang tokoh memandang langit yang terdapat banyak bintang-bintang dan bulan
purnama yang sangat indah. Penulis juga menggambarkan pakaian yang dikenakan
oleh para tokoh yaitu dengan memakai pakaian tradisional jawa dan make up yang
membantu dan menyesuaikan peranan para tokoh.
Selanjutnya
penulis juga sangat teliti saat menceritakan kisah flashback dari dari sang tokoh Jaka Tarub semasa muda dulu yang
gemar berburu dan suatu ketika tanpa sengaja saat tengah berburu disungai
melihat ketujuh bidadari yang akan turun ke bumi dan hendak mandi di sungai
tersebut. Saat ketujuh bidadari itu turun dan mandi tanpa membuang kesempatan
untuk mengambil salah satu selendang milik bidadari tersebut, karena sang tokoh
sangat menginginkan untuk menikah dengan seorang bidadari.
Esai
yang ditulis oleh penulis selanjutnya menjelaskan saat sang tokoh kemudian
berhasil mengambil selendang milik salah satu bidadari bernama Nawang Wulan
yang kemudian akhirnya menjadi istri sang tokoh dan kemudian memiliki anak
hasil buah cinta mereka yang diberi nama Nawangsih.
Esai
yang ditulis oleh penulis juga menceritakan adanya tokoh baru bernama Tomo dan
Topo yang mengocok perut, sayangnya tidak dijelaskan lebih rinci kenapa tokoh
tersebut dapat mengocok perut para penonton dan tidak dijelaskan lebih rinci
lagi siapa tokoh Tomo dan Topo tersebut sehingga membuat saya sedikit berpikir
alangkah lebih baiknya jika gambaran tokoh Tomo dan Topo lebih jelas karena
dari cerita sebelumnya penggambaran tokohnya pun juga sangat jelas.
Selanjutnya
penulis menceritakan konflik yang terjadi antara tokoh Jaka Tarub dan Nawang
Wulan yang marah dan akhirnya bertengkar hebat akibat tokoh Jaka Tarub tidak
menepati janji pada Nawang Wulan saat Nawang Wulan hendak mencuci pakaian dan
menitipkan sang anak pada Jaka Tarub dan berpesan bahwa selama Nawang Wulan
pergi Jaka Trub tidak diperkenankan membuka tutup panci yang digunakan untuk
memasak nasi. Namun karena rasa penasaran tersebut akhirnya tokoh Jaka Tarub
membuka penutup panci tersebut dan mendapatkan keanehan dengan cara Nawang
Wulan memasak nasi. Hingga akhirnya tokoh Nawang Wulan marah dan kecewa akibat
ulah Jaka Tarub yang tidak menepati janji hingga membuat kekuatan Nawang Wulan
yang sejatinya seorang bidadari hilang.
Konflik
lain juga disebutkan saat akhirnya Nawang Wulan menemukan selendangnya yang
selama ini hilang dan ternyata Jaka Tarub lah yang mengambil selendangnya
hingga semakin membuat Nawang Wulan marah dan dengan berat hati meninggalkan
Jaka Tarub dan Nawangsih anaknya untuk kembali ke kayangan.
Penulis
mengungkapkan konflik yang terjadi kurang menegangkan dan terkesan biasa saja
sehingga seperti pertunjukan biasa tanpa konflik. Penulis juga mengatakan bahwa
pemain kurang mendalami peran para tokoh. Penulis juga menjelaskan saat saat
tokoh Jaka Tarub menangis kurang mendapat perhatian para penonton karena
terkesan tidak menjiwai peran menangis, sehingga tidak berhasil menghanyutkan
para penonton pada cerita tersebut. namun penulis mengatakan bahwa seluruh
pementasan Drama Jaka Tarub sudah sangat bagus mengingat memang tidak mudah
untuk memerankan seorang tokoh dalam suatu pementasan.
Selanjutnya
penulis juga memberikan gambaran tentang pementasan Monolog Balada Sumarah,
diawal cerita penulis juga mengungkapkan saat seorang permpuan berada didalam
kotak kayu yang mengagetkan para penonton karena keluar dengan tiba-tiba
disertai teriakan yang memilukan. Penulis juga menuliskan bagaimana ekspresi
tokoh Sumarah yang terkesan seperti menahan amarah yang menggelora. Sayangnya
penulis tidak menjelaskannya secara rinci.
Esai
yang ditulis oleh penulis tentang Monolog Balada Sumarah juga cukup jelas
menggambarkan seorang perempuan bernama Sumarah yang bekerja sebagai TKW di
Arab Saudi yang mendapatkan perlakuan kurang baik dari lingkungan sekitar.
Penulis juga menjelaskan bagaimana pemain dengan sangat apik memerankan
beberapa tokoh sekaligus dalam cerita tersebut seperti Pak Kasirun seorang guru
ngaji yang sudah tua, memerankan nenek-nenek yang tidak mau memberikan Sumarah
surat-surat yang dia butuhkan, begitu pun saat memerankan peran sebagai
tetangganya yang suka bergosip ria.
Penulis
juga menceritakan kisah Sumarah sebagai seorang TKW yang gajinya tidak dibayar
oleh majikannya dan yang lebih menyayat hati saat tokoh sumarah mendapat
perlakuan yang kurang baik dan tidak senonoh dari majikannya hingga suatu
kemalangan terjadi yang membuat tokoh Sumarah gelap mata dan membunuh sang
majikan. Sayangnya penulis kurang menjelaskan hingga akhir cerita saat tokoh
sumarah mendapat persidangan atas kasusnya hingga dihukum mati oleh pemerintah
Arab Saudi karena terbukti bersalah. Tetapi apa yang ditulis oleh penulis sudah
sangat jelas dan baik, bahasanya juga mudah dipahami dan tidak bertele-tele,
sehingga membuat pembaca tidak merasa bosan saat membaca esai dari penulis.
Semoga sepenggal kisah yang dipentaskan mulai dari Drama Jaka Tarub dan Monolog
Balada Sumarah dapat memberi nilai-nilai dan
pembelajaran positif yang dapat kita ambil didalamnya.
Semoga bermanfaat.
-Indah
Tri Wulan, 3D/PBSI Mahasiswa Universitas PGRI Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar