Jumat, 21 September 2018

Autobiografi

AUTOBIOGRAFI

Nama Indah Tri Wulan, lahir di Pemalang, 1 Maret 1997. Saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakak pertama bernama Arif Arfan yang sekarang sudah menikah dan kakak kedua bernama Budi Priyadi. Lahir dari seorang ayah bernama M. Sugiyanto dan ibu bernama Solichah yang tinggal di sebuah desa di wilayah Pemalang Selatan, yaitu Desa Randudongkal.
Pada tahun 2002 ketika umur 5 tahun Saya mulai bersekolah di TK Handayani Randudongkal. Waktu itu selama setahun penuh ketika berangkat sekolah Saya selalu diantar oleh ibu karena letak sekolah yang berada di seberang jalan raya besar. Jarak sekolah dari rumah  membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Ketika ada acara pentas seni di TK, Saya dan teman-teman yang berjumah 10 orang ikut berpartisipasi dengan menampilkan tari kreasi dengan kostum yang sama berwarna jingga dengan dua kuncir kuda dan pita warna-warni di kepala. Saya masih ingat ketika TK mungkin hanya Saya siswa yang belum pandai menulis dan membaca, berbeda dengan teman lainnya yang sudah mandiri jika di kelas, pada waktu tertentu jika Saya sedang rewel maka mau tidak mau ibu harus ikut masuk ke dalam kelas, duduk di sebelah Saya dan bahkan membantu Saya dalam mengerjakan beberapa tugas. Ketika ingat itu Saya malu sendiri.
Tahun 2003 Saya lulus dari TK Handayani Randudongkal dan melanjutkan pendidikan di SD Negeri 7 Randudongkal. Setelah bersekolah di SD Saya menjadi lebih mandiri, ketika berangkat sekolah sudah tidak di antar lagi oleh ibu. Jarak rumah ke sekolah juga sangat dekat kurang lebih 5 menit dengan hanya berjalan kaki. Pada saat bersekolah di SD Saya cukup aktif mengikuti beberapa kegiatan seperti lomba puduan suara, lomba pramuka (pesta siaga), lomba gerak jalan, dan beberapa kali menjadi pemimpin upacara bendera setiap Senin. Ketika SD Saya mulai menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, ketika menemukan gambar di buku pelajaran Saya merasa imajinasi Saya bermain dan membayangkan jika Saya berada pada situasi di gambar tersebut. Saya juga mulai senang berbicara sendiri seperti bermonolog jika bermain boneka barbie.
Setelah 6 tahun bersekolah di SD Negeri 7 Randudongkal, pada tahun 2009 Saya melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Randudongkal. SMP Negeri 1 Randudongkal merupakan salah satu sekolah favorit di Kecamatan Randudongkal. Jarak rumah ke sekolah membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit, cukup jauh memang. Ketika di SMP Saya masih suka pelajaran Bahasa Indoneisa, hanya saja kemudian rasa suka Saya terbagi dengan Pelajaran Sejarah dan Geografi.
Pada tahun 2012 Saya lulus dari SMP dan melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Randudongkal dengan jurusan Bahasa. Di SMA ada tiga jurusan yang berbeda yaitu IPA, IPS, dan Bahasa. Kenapa memilih Bahasa sebagai jurusan di SMA? Tidak mudah memang, selain pemikiran yang matang dibutuhkan juga nilai yang mampu mendukung agar Saya bisa masuk jurusan Bahasa. Memang ketika SMP pelajaran IPS menjadi pelajaran favorit setelah Bahasa Indoneisa, namun entah mengapa ketika SMA tidak tertarik lagi dengan jurusan IPS, apalagi IPA. Akhirnya sesuai harapan Saya masuk di Jurusan Bahasa yang hanya terdiri dari 1 kelas saja dengan 27 orang peserta didik. Ketika di SMA dengan masuk Jurusan Bahasa Saya di arahkan ke pelajaran yang cukup banyak mengenai pembelajaran Bahasa seperti pelajaran Bahasa Indoneisa sendiri dan Pelajaran Sastra. Di pelajaran Sastra Saya mendapatkan materi dan praktik bermonolog, bermain drama, dan membuat pertunjukan drama sendiri di aula sekolah. Ketika si SMA Saya juga mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Pramuka. Ada juga Pelajaran Bahasa Perancis yang Saya dapatkan dengan tugas yang tak jauh berbeda yaitu drama Bahasa Perancis, serta drama Bahasa Jawa. Di kelas Bahasa memang banyak terdapat praktik drama yang pernah Saya lakukan.
Pada tahun 2015 Saya lulus dari SMA Negeri 1 Randudongkal. Pada beberapa waktu Saya sempat bingung setelah lulus SMA, apakah ingin melanjutkan kuliah atau kerja. Akhirnya setelah berunding dengan orang tua Saya melanjutkan pendidikan di Universitas PGRI Semarang dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indoneisa. Sekarang Saya sudah semester 7 di kelas 7D. Beberapa waktu lalu Saya sempat mengikuti lomba drama yang diadakan oleh HIMA PBSI dan Alhamdulillah bisa menjadi juara 1 di lomba tersebut dengan memerankan lakon  Minah dalam drama yang berjudul “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” karya Seno Gumira Ajidarma.


- Indah Tri Wulan, 15410152, Mahasiswa Universitas PGRI Semarang.

Sabtu, 24 Desember 2016

Pentingnya Bimbingan Orang Tua

 Pentingnya Bimbingan Orang Tua

Menanggapi opini yang dimuat Tribun Jateng pada Jumat, 23 Desember 2016 oleh Tri Pujiati seorang Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan judul "Ibu, Televisi dan Generasi Internet". Lewat opini yang ditulis penulis, saya merasa sependapat dengan pemikiran penulis bahwasannya acara televisi beberapa tahun ini lebih mementingkan ratting daripada mutu dan manfaat yang didapat. Seperti yang kita tahu bahwa acara televisi sekarang lebih sering menayangkan acara-acara yang kurang bermanfaat contohnya sepetri sinetron, berita gosip, dan lain sebagainya yang menurut saya hanya semakin memperkeruh keadaan sekarang. Bagaimana tidak memperkeruh dengan adanya acara seperti sinetron dan berita gosip hanya akan membuat kita menjadi pribadi yang dramatis dan bermental lemah, bahkan lebih parah lagi menjadikan kita sebagai pribadi yang "ingin tahu" segala urusan orang lain.

Acara sintentron dan berita gosip hanya akan menjadikan kita terlalu asyik berkhayal dengan dunia yang kita ciptakan sendiri. Acara-acara tersebut tentunya akan membuat dampak-dampak yang negatif juga bagi perkembangan mental dan pikiran anak usia dini, mungkin benar yang hanya dipikirkan oleh sebagian dari "mereka" yang penting ratting naik, dengan ratting naik maka akan semakin banyak iklan yang juga akan semakin menaikkan pendapatan "mereka" dan masalah manfaat bagi penonton adalah nomor sekian.

Kita juga tahu bahwa belakangan ini kita kekurangan acara televisi yang menampilkan banyak acara untuk anak, acara yang sesuai porsi anak, acara yang mengedukasi, acara yang akan membuat pemikiran anak menjadi berkembang, acara yang membuat orang tua tidak was-was saat sang buah hati menonton acara televisi dengan tidak mendapat pantauan dari para orang tua. Mungkin benar jika sekarang peran para orang tua harus lebih selektif dalam memilih segala tontonan untuk sang anak.

Kita juga paham pekrembangan zaman yang mungkin juga ikut berperan menjadikn acara pertelevisian kita juga ikut berubah, jika dahulu ketika saya kecil saya masih sering menonton acara-acara seperti cerita lagenda-lagenda lokal yang dikartunkan sesuai porsi anak-anak yang tentunya memberikan dampak dan nilai positif. Bandingkan dengan sekarang yang lebih banyak menyajikan acara-acara sinetron yang penuh konflik yang hanya akan semakin menumpulkan pemikiran anak-anak yang harusnya sedang masa berkembanng, yang lebih dikhawatirkan lagi jika hal tersebut malah menjadikan anak-anak meniru sedikit banyak dari sifat negatif yang mereka tonton, tentunya sangat miris bukan.

Masa sekarang masyarakat juga lebih memilih televisi yang sudah sangat jelas menyampaikan segala informasi dengan bentuk suara, tulisan, beserta visual, berbeda dengan media lain seperti radio, surat kabar, atau majalah yang hanya menampilkan suara saja , atau tulisan dan visual saja. Seperti yang penulis sampaikan bahwa Berdasarkan hasil survie yang dilakukan oleh Nielsen Audience Measurement pada 2012 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang menonton televisi mencapai 95%.kemudian disusul Internet dengan. 33%, radio 20%, surat kabar 12%, tabloid 6%, dan majalah 5%. Tentu sudah sangat kentara pernbedaannya.

 Belum selesai dengan acara televisi yang semakin jauh untuk porsi anak-anak, hadir juga perkembangan internet yang semakin canggih dan terbuka untuk siapa saja, segala usia, baik pria maupun wanita juga dapat dengan mudah menggunakannya. Mengakses dan berselancar di dunia maya dengan bebas. Tentunya hal ini harus menjadi perhatian juga bagi orang tua untuk mengawasi anak-anaknya agar tidak salah dalam mencari segala informasi yang ada pada internet.

Berbeda dengan acara televisi dan internet, saya masih ingat beberapa waktu lalu ketika saya sedang duduk dirumah saya mendengar adik sepepu saya yang masih dibilang sangat dini juga menyanyi sebuah lagu yang samar-samar terdengar menurut saya sangat belum pantas dinyanyikan oleh anak seusianya, bagaimana bisa seorang anak berusia 3 tahun menyanyikan lagu tentang cinta dan patah hati, tentunya membuat saya kaget dan langsung menanyakan hal itu dengan mamak saya, kenapa bisa adik sepupu saya bisa menyanyikan lagu seperti itu yang saya juga sangat yakin bahwa dia belum tahu maknanya. Saya cukup kaget dan merasa kecolongan. Setelah saya amati ternyata yang membuat adik sepupu saya bisa menyanyikan lagu seperti itu juga karena lingkungan sekitar tempat adik sepepu saya bermain, banyak juga anak-anak kecil seusia SD, SMP juga sering menyanyikan lagu-lagu seperti itu, apa mungkin adik sepupu saya juga terbawa arus teman sepermainan? Atau mungkin kurangnya pengawasan dari orang tua? Atau karena anak seusia adik sepupu saya sedang masa-masanya berkembang sehingga mengikuti apa saja yang dia dengar dan pelajari sendiri karena belum tahu yang mana yang boleh dan yang mana yang tidak boleh, mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Terlepas dari itu semua, peran orang tualah yang sangat penting untuk menanamkan sejak dini pola pikir anak-anak mereka, sebisa mungkin atau bahkan harus orang tua mengawasi dan memberi pemahaman segala bentuk tontonan yang pantas sesuai porsi anak-anak, mengawasi dan memberi pemahaman segala bentuk lagu-lagu yang pantas sesuai porsi anak-anak, orang tua juga perlu mengawasi, memberi pemahaman, dan bahkan memberi pantauan terhadap keseharian sang anak agar segala bentuk tindakan dan perilakunya sesuai dengan porsi anak itu sendiri. Sekian, semoga bermanfaat.


-Indah Tri Wulan, Mahasiswa Universitas PGRI Semarang

Semangat Generasi Muda Mengisi Sumpah Pemuda

Semangat Generasi Muda Mengisi Sumpah Pemuda

Perayaan Gebyar Bulan Bahasa yang rutin dilaksanakan setiap tahun pada bulan Oktober di Universitas PGRI Semarang telah usai, setelah pada tanggal 27 Oktober 2016 menggelar acara Festival Budaya di Balairung Universitas PGRI Semarang yang dihadiri oleh Rektor beserta jajarannya dan keluarga besar Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni.

Dalam acara tersebut semua mahasiswa maupun dosen serempak mengenakan berbagai macam pakaian adat khas Nusantara. Acara yang mengusung tema “Bhineka Tunggal Ika” atau Berbeda-Beda Tetapi Tetap Satu Jua sukses menyatukan berbagai golongan tanpa membedakan suku, agama, ras. Semua bersatu larut dalam acara yang penuh dengan suka cita. Dalam acara tersebut juga di gelar lomba tari kreasi yang diikuti oleh 28 tim dari berbagai kelas dan jurusan dari Progdi yang terdapat di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni.

Tarian kreasi yang dilombakan juga sangat menarik, banyak sekali tim-tim yang sangat apik memadupadankan tarian mereka, musik yang serasi, mengenakan kostum yang pas sesuai tarian, dan bahkan banyak juga tim-tim yang membawa properti tari yang sangat menakjubkan, tarian yang dibawakan juga sangat bagus ada yang membawakan tari kreasi modern dan tarian khas daerah Nusantara. Tentunya kreatifitas yang dipersembahkan oleh tim-tim tari tersebut pantas diacungi jempol.

Setelah sukses dengan acara Festival Budaya yang berhasil mewujudkan nilai “Bhineka Tunggal Ika”, puncaknya pada tanggal 28 Oktober 2016 bertepatan dengan Peringatan Hari Sumpah Pemuda, Teater Gema Universitas PGRI Semarang juga mengadakan acara guna memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke 88. Acara tersebut berlangsung di halaman parkir Gedung Utama Universitas PGRI Semarang di mulai dari pagi hari hingga malam hari.

Dalam acara yang berlangsung pagi hari tersebut para mahasiswa yang datang diberi selembar kertas kosong yang kemudian digunakan untuk menuliskan harapan-harapan dalam menyambut acara Sumpah Pemuda yang kemudian di tempel di dinding. Beberapa mahasiswa juga berorasi menyuarakan semangat Sumpah Pemuda diikuti oleh beberapa mahasiswa lain yang berperan dibelakang namun dalam keadaan diam. Sayangnya hanya sedikit mahasiswa yang datang dalam acara tersebut, namun tak mengurangi semangat para mahasiswa yang hadir, karena buktinya acara tersebut juga cukup sukses.

Yang menarik dalam acara ini adalah setiap mahasiswa yang hadir diperbolehkan untuk ikut serta menyuarakan apa yang ingin di sampaikan perihal peringatan Sumpah Pemuda, terik matahari pun tak menghalangi para mahasiswa untuk menyerukan semangat Sumpah Pemuda. Dengan adanya acara yang diadakan oleh Teater Gema Universitas PGRI Semarang seperti ini sebenarnya adalah cara sederhana bagi para generasi muda dan mahasiswa khususnyauntuk dapat menyerukan semangat Nasionalisme, para mahasiswa juga dapat memberikan contoh bagaimana mengisi perayaan Sumpah Pemuda dengan tindakan positif dan dengan kreatifitas yang dimiliki tanpa perlu mencoreng nilai luhur dari Sumpah Pemuda itu sendiri dengan tindakan yang anarkis dan tidak bermanfaat.

Pada dasarnya perayaan Sumpah Pemuda adalah wadah terlebih khusunya bagi kita para mahasiswa untuk lebih semangat dalam melakukan berbagai hal yang positif tanpa harus bertindak gegabah yang nantinya hanya akan menjerumuskan kita pada hal yang salah yang akan membawa kita pada kehancuran.
Sumpah Pemuda adalah semangatnya para pemuda untuk terus berkarya dan menjadikan hidup lebih terarah, lebih positif dan bermanfaat bagi orang di sekitar karena kita tahu bahwa Sumpah Pemuda tidak lahir begitu saja, melainkan butuh waktu bertahun-tahun, banyak keringat dan tenaga yang terkuras, atau bahkan nyawa sekalipun untuk berjuang dan bertekad demi menjadikan bangsa Indonesia bersatu.

Oleh karena itu kita sebagai kaum muda yang hidup di masa sekarang harusnya merasa beruntung karena kita hanya perlu melanjutkan perjuangan para pemuda terdahulu tanpa perlu berperang melawan penjajah, tanpa perlu berperang dengan senjata. Tetapi justru itu kita tidak boleh lengah, kita tidak boleh santai dan memanjakan diri, justru kita harus tetap mawas diri karena lawan kita adalah diri kita sendri dibawah kuasa teknologi dan perkembangan zaman yang terus berkembang, yang bisa kapan saja dengan mudah memberikan doktrin-doktrin dari segala arah tanpa kita duga.

Kita sebagai generasi muda juga harus bisa memfilter setiap hal yang masuk dalam kehidupan kita, membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik untuk kita, karena kalo bukan diri kita sendiri siapa lagi?Dengan adanya perayaan Sumpah Pemuda ini juga diharapkan kita sebagai generasi muda dapat saling bergotong-royong, bersama-sama saling menjaga keutuhan dan persatuan terlebih di lingkungan tempat tinggal kita.Kita juga bisa mengisi perayaan Sumpah Pemuda dengan cara belajar yang sungguh-sungguh karena kewajiban kita sebagai mahasiswa adalah belajar dan menuntut ilmu. Di mulai dari tindakan kecil perubahan itu bisa terjadi.Semoga semangat Sumpah Pemuda selalu membara di dalam diri kita.

-Indah Tri Wulan 3D/PBSI/1541015

Sastra Dan Bahasa

Sastra dan Bahasa

UPGRIS Bersasatra adalah salah satu rangkaian acara dalam rangka memperingati GebyarBulan Bahasa yang diadakan oleh Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang pada Rabu, 19 Oktober 2016 bertempat di Balairung Universitas PGRI Semarang. Dalam acara UPGRIS Bersastra tersebut terdapat 3 buku, 3 pembaca, dan 3 kritikus yang akan membedah buku karya Triyanto Triwikromo yang berjudul Bersepeda Ke Neraka, Selir Musim Panas, dan Sesat Pikir Para Binatang.

Beberapa narasumber yang ikut hadir diantaranya Triyanto Triwikromo, Muhdi, Sri Suciati, Asropah, Nur Hidayat, Prasetyo Utomo, Widyanuari Eko Putra. Dalam acara tersebut terdapat juga Biscuittime sebagai bintang tamu yang membawakan karya berupa musikalisasi puisi.

Dalam acara yang berlangsung dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB terdapat  serangkaian acara yang dibawakan oleh penampil guna menyemarakkan acara UPGRIS Bersastra tersebut. Acara yang pertama adalah penampilan dari Biscuittime yang dipersonili oleh Deska Setia Perdana, Yongki Arya Permana, dan Annisa Alpha Rizqiana yang membawakan karya-karya musikalisasi yang berjudul Aku Ingin Mencintaimu Tapi Tak Tahu Caranya, Soliloqui, Menjelma Puisi, Moksa. Ketiganya juga merupakan lulusan dari Universitas PGRI Semarang.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh lima orang mahasiswi secara bersamaan, namun sayang suasana di Balairung pada saat itu kurang kondusif karena hadirin terlalu sibuk dengan urusan masing-masing membuat kesan riuh ditambah pembacaan puisi yang kurang keras, sehingga pembacaan puisi oleh lima orang mahasiswi tersebut kurang diperhatikan dan kurang mendapat respon dari hadirin terlebih dibagian belakang.

Selanjutnya adalah pembacaan puisi oleh seorang pria yang menggunakan pakaian jawa lebih tepatnya kain lurik diiringi musik gamelan dan lagu jawa dikelilingi oleh beberapa penari perempuan yang juga mengenakan pakaian jawa dengan membawa topi caping, jaring. Kemudian muncul penari pria yang semakin memberi kesan kejutan dalam penampilan mereka. Pembacaan puisi tersebut dapat menarik perhatian para hadirin dari yang semula bising menjadi tepukan tangan riuh karena sang penampil yang menampilkan karya tak terduga dan dapat membius hadirin yang datang.

Setelah acara tersebut selanjutnya adalah acara inti yaitu mengenai UPGRIS Bersastra 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus dan 1 penulis. Pembacaan buku pertama dilakukan oleh Rektor Universitas PGRI Semarang yang diawali dengan sang rektor yang memainkan gitar dengan cukup menghibur para hadirin yang datangdengan petikan gitar disertakan nyanyian yang berisi nasehat kepada kaum muda agar hidup lurus, agar kaum muda tidak salah memilih dalam hidup.Beberapakutipan yang dibacadalam buku tersebut “Takziah” yang berisi gambaran manusia yang pasti akan meninggal, “Mereka Memalsukan Kisah” yang berisi tentang banyak orang yang berpura-pura, tidakmenjadidirisendiri, tidakmenjadipribadi yang menggambarkansifataslimereka.

Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan buku dari Triyanto Triwikromo yang berjudul “Selir Musim Panas” oleh Sri Suciati yang didampingi oleh mahasiswi dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris yang bernama Erda dengan iringan tembang jawa yang sangat merdu. Keduanya sangat serasi dan kompak saat membawakan kolaborasi tersebut. Sri Suciati mengatakan bahwa puisi karya Triyanto Triwikromo sangat bagus.

Dalam acara UPGRIS Bersastra terdapat 3 kritikus yang membedah buku karya Triyanto Triwikromo yaitu Nur Hidayat yang mengatakan bahwa “Triyanto Triwikromo adalah pelintas batas atau bisa dikatakan telah melampaui batas-batas jurnalisme dan sastra” selanjutnya adalah Prasetyo Utomo yang mengatakan bahwa “buku yang hanya dapat dipahami oleh sebuah teori, teori bernama struktural genetik, tonkinemton, ada sesuatu yang mengapung dalam diri Triyanto Triwikromo”. Kemudian yang terakhir adalahWidyanuari Eko Putro yang mengatakan bahwa “jika ingin mengetahui isi dari salah satu buku Triyanto Triwikromoharuslah membacanya dari awal atau bisa dikatakan jika ingin paham mengenai salah satu buku Triyanto Triwikromo haruslah membacanya dari buku yang pertama dilanjut buku kedua, ketiga, dan seterusnya karena jika langsung membaca dari satu buku saja akan sulit memahaminya. Bisa dikatakan karya-kara Triyanto saling berkaitan”.

Triyanto Triwikromo mengatakan bahwa beliau sangat gemetar saat berada diatas panggung Balairung, padahal notabene beliau telah lebih dulu melalang buana di panggung-panggung lain namun beliau mengatakan rasanya berbeda. Beliau juga merasa bahagia bisa dipertemukan dengan teman-teman dari Universitas PGRI Semarang. Beliau juga mengatakan di tahun yang lalu bahwa beliau memilih untuk terjun ke jalur sastra, berlomba-lomba memenuhi kebutuhan manusia. Beberapa karya beliau juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, Swedia, Prancis, dll. Sungguh dalam acara UPGRIS Bersastra tersebut banyak sekali ilmu-ilmu yang didapat oleh penulis. Semoga tulisan penulis dapat bermanfaat. Terima Kasih.


-Indah Tri Wulan, 3D/PBSI Mahasiswa Universitas PGRI Semarang

Tren Wisata Alam Atau Kekinian

Tren Wisata Alam atau Kekinian

            Menanggapi opini dari Isai Yusidarta Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Taman Nasional Karimunjawa yang berjudul “Tren Wisata Mandiri di Karimunjawa” yang dimuat dalam Koran Tribun Jateng edisi Senin, 19 September 2016.  Jika dilihat dari kata wisata apa yang terlintas dalam benak kita? Apakah wisata adalah suatu sarana rekreasi? Apakah wisata suatu sarana penghibur diri? Apakah wisata sebagai kebutuhan?. Benar yang dikatakan oleh Isai Yusidarta bahwa “perjalanan wisata menjadi kebutuhan khususnya masyarakat perkotaan, terdapat asumsi bahwa selain empat sehat lima sempurna perjalanan wisata merupakan pelengkap untuk hidup sehat (paragraph 1)”. Perjalanan wisata memang dapat dikatakan sebagai suatu kebutuhan karena dengan melakukan perjalanan wisata kita dapat kembali merefresh otak, dengan kata lain saat kita melakukan perjalanan wisata diharapkan mampu mengembalikan kesegaran pada badan dan pikiran kita setelah sibuk dengan berbagai rutinitas yang ada.

            Kemajuan teknologi dikatakan menjadi peran penting yang telah mendorong pergeseran perjalanan wisata dari yang awal mulanya perjalanan wisata diperkotaan seperti wisata buatan dan lain sebagainya tergantikan oleh tren wisata yang berbau nuansa alam. Benar adanya jika dikatakan bahwa kemajuan teknologi berperan penting karena kita sendiri tahu bahwa akhir-akhir ini terdapat tren bahwa perjalanan wisata alam lebih diminati oleh masyarakat, terlebih banyak sekali referensi-referensi pendukung seperti di sosial media dan lain sebagainya yang menambah daya tarik perjalanan wisata alam. Mungkin bisa dikatakan bahwa perjalanan wisata yang menyajikan pemandangan alam sedang menjadi trending topik dikalangan masyarakat beberapa tahun belakang, bahkan ada yang mengatakan dengan istilah “agar kekinian”.

            Sudah menjadi hal umum bahwa tren wisata ini berkembang pesat dikalangan masyarakat terlebih sekarang yang terjadi di daerah saya juga demikian sama. Banyak sekali bukit-bukit yang sebenarnya bisa dikatakan  fungsinya bukan tempat wisata karena memang fungsi aslinya menjadi lahan pertanian namun akibat perkembangan zaman dan pergeseran perjalanan wisata ditambah lagi dukungan-dukungan disosial media menjadikan banyak masyarakat ingin mengunjungi tempat tersebut hingga akhirnya berkmbang tren bahwa bukit itu menjadi tempat wisata.

            Terlepas dari tren wisata yang berkembang sekarang sebenarnya baik perjalanan wisata diperkotaan atau perjalanan wisata alam sekalipun hendaknya kita ikut bersama-sama menjaganya terlebih masih banyak ditemukan vandalisme atau perusakan terhadap objek-objek wisata oleh tangan-tangan jahil pengunjung wisata yang kurang bertanggung jawab baik ditempat wisata yang dijaga oleh petugas maupun tidak dijaga oleh petugas. Seharusnya bukan hanya sekadar datang, menikmati pemandangan, mengabadikan momen, dan membaginya saja, tapi lebih dari itu jika kita memang terbawa arus tren kekinian hendaknya diselingi dengan rasa tanggung jawab yang tinggi pula untuk tren melestarikan alam.

-Indah Tri Wulan, Mahasiswa Universita PGRI Semarang Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia

Media Belajar Bisa Datang Dari Mana Saja

Media Belajar Bisa Datang Dari Mana Saja

          Menanggapi Ulasan Pentas Drama Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah yang berjudul “Bahagia Sesaat, Sedih Seterusnya” yang ditulis oleh Dina Noviana Prihandini. Setelah saya membaca esai yang ditulis oleh penulis saya melihat beberapa perbedaan dan kesamaan antara saya dan penulis. Apa yang ditulis penulis sebelum menulis essainya sangat terbuka dan transparan penulis mengungkapkan kegelisahan hatinya mengenai acara yang terlalu lama ngaret dan pelayanan yang kurang memuaskan, karena terjadi antrian di pintu masuk dan kebanyakan mahasiswa berdesak-desakan hingga membuat suasana sangat kurang nyaman dengan beberapa ketegangan antar mahasiswa karena mungkin sudah terlalu lama menunggu dan antusias terhadap pementasan tersebut.

     Pada esai yang ditulis penulis sangat teliti menggambarkan semua properti yang mendukung dalam pementasan Drama Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah seperti dengan menyebutkan gubuk, sungai buatan, awan-awan, rumput beserta pepohonan, dan lain sebagainya ditambah pencahayaan yang semakin menyemarakkan acara pementasan tersebut.

      Penulis juga menceritakan dengan sangat jelas bagaimana cerita awal dalam pementasan Drama Jaka Tarub dengan menjelaskan gambaran seorang kakek yang tengah tertidur di kursi dipan di depan sebuah gubuk yang kemudian mengigau karena memimpikan anak gadisnya yang bernama Nawang Wulan. Penulis juga menggambarkan suasana pada saat cerita itu berlangsung seperti yang tergambar dengan suasana malam saat sang tokoh memandang langit yang terdapat banyak bintang-bintang dan bulan purnama yang sangat indah. Penulis juga menggambarkan pakaian yang dikenakan oleh para tokoh yaitu dengan memakai pakaian tradisional jawa dan make up yang membantu dan menyesuaikan peranan para tokoh.

       Selanjutnya penulis juga sangat teliti saat menceritakan kisah flashback dari dari sang tokoh Jaka Tarub semasa muda dulu yang gemar berburu dan suatu ketika tanpa sengaja saat tengah berburu disungai melihat ketujuh bidadari yang akan turun ke bumi dan hendak mandi di sungai tersebut. Saat ketujuh bidadari itu turun dan mandi tanpa membuang kesempatan untuk mengambil salah satu selendang milik bidadari tersebut, karena sang tokoh sangat menginginkan untuk menikah dengan seorang bidadari.

    Esai yang ditulis oleh penulis selanjutnya menjelaskan saat sang tokoh kemudian berhasil mengambil selendang milik salah satu bidadari bernama Nawang Wulan yang kemudian akhirnya menjadi istri sang tokoh dan kemudian memiliki anak hasil buah cinta mereka yang diberi nama Nawangsih.
Esai yang ditulis oleh penulis juga menceritakan adanya tokoh baru bernama Tomo dan Topo yang mengocok perut, sayangnya tidak dijelaskan lebih rinci kenapa tokoh tersebut dapat mengocok perut para penonton dan tidak dijelaskan lebih rinci lagi siapa tokoh Tomo dan Topo tersebut sehingga membuat saya sedikit berpikir alangkah lebih baiknya jika gambaran tokoh Tomo dan Topo lebih jelas karena dari cerita sebelumnya penggambaran tokohnya pun juga sangat jelas.

      Selanjutnya penulis menceritakan konflik yang terjadi antara tokoh Jaka Tarub dan Nawang Wulan yang marah dan akhirnya bertengkar hebat akibat tokoh Jaka Tarub tidak menepati janji pada Nawang Wulan saat Nawang Wulan hendak mencuci pakaian dan menitipkan sang anak pada Jaka Tarub dan berpesan bahwa selama Nawang Wulan pergi Jaka Trub tidak diperkenankan membuka tutup panci yang digunakan untuk memasak nasi. Namun karena rasa penasaran tersebut akhirnya tokoh Jaka Tarub membuka penutup panci tersebut dan mendapatkan keanehan dengan cara Nawang Wulan memasak nasi. Hingga akhirnya tokoh Nawang Wulan marah dan kecewa akibat ulah Jaka Tarub yang tidak menepati janji hingga membuat kekuatan Nawang Wulan yang sejatinya seorang bidadari hilang.

      Konflik lain juga disebutkan saat akhirnya Nawang Wulan menemukan selendangnya yang selama ini hilang dan ternyata Jaka Tarub lah yang mengambil selendangnya hingga semakin membuat Nawang Wulan marah dan dengan berat hati meninggalkan Jaka Tarub dan Nawangsih anaknya untuk kembali ke kayangan.
Penulis mengungkapkan konflik yang terjadi kurang menegangkan dan terkesan biasa saja sehingga seperti pertunjukan biasa tanpa konflik. Penulis juga mengatakan bahwa pemain kurang mendalami peran para tokoh. Penulis juga menjelaskan saat saat tokoh Jaka Tarub menangis kurang mendapat perhatian para penonton karena terkesan tidak menjiwai peran menangis, sehingga tidak berhasil menghanyutkan para penonton pada cerita tersebut. namun penulis mengatakan bahwa seluruh pementasan Drama Jaka Tarub sudah sangat bagus mengingat memang tidak mudah untuk memerankan seorang tokoh dalam suatu pementasan.

        Selanjutnya penulis juga memberikan gambaran tentang pementasan Monolog Balada Sumarah, diawal cerita penulis juga mengungkapkan saat seorang permpuan berada didalam kotak kayu yang mengagetkan para penonton karena keluar dengan tiba-tiba disertai teriakan yang memilukan. Penulis juga menuliskan bagaimana ekspresi tokoh Sumarah yang terkesan seperti menahan amarah yang menggelora. Sayangnya penulis tidak menjelaskannya secara rinci.

      Esai yang ditulis oleh penulis tentang Monolog Balada Sumarah juga cukup jelas menggambarkan seorang perempuan bernama Sumarah yang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi yang mendapatkan perlakuan kurang baik dari lingkungan sekitar. Penulis juga menjelaskan bagaimana pemain dengan sangat apik memerankan beberapa tokoh sekaligus dalam cerita tersebut seperti Pak Kasirun seorang guru ngaji yang sudah tua, memerankan nenek-nenek yang tidak mau memberikan Sumarah surat-surat yang dia butuhkan, begitu pun saat memerankan peran sebagai tetangganya yang suka bergosip ria.

     Penulis juga menceritakan kisah Sumarah sebagai seorang TKW yang gajinya tidak dibayar oleh majikannya dan yang lebih menyayat hati saat tokoh sumarah mendapat perlakuan yang kurang baik dan tidak senonoh dari majikannya hingga suatu kemalangan terjadi yang membuat tokoh Sumarah gelap mata dan membunuh sang majikan. Sayangnya penulis kurang menjelaskan hingga akhir cerita saat tokoh sumarah mendapat persidangan atas kasusnya hingga dihukum mati oleh pemerintah Arab Saudi karena terbukti bersalah. Tetapi apa yang ditulis oleh penulis sudah sangat jelas dan baik, bahasanya juga mudah dipahami dan tidak bertele-tele, sehingga membuat pembaca tidak merasa bosan saat membaca esai dari penulis. Semoga sepenggal kisah yang dipentaskan mulai dari Drama Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah dapat memberi nilai-nilai dan pembelajaran positif yang dapat kita ambil didalamnya. Semoga bermanfaat. 

-Indah Tri Wulan, 3D/PBSI Mahasiswa Universitas PGRI Semarang.






Kekuatan Seni yang Menggetarkan Hati



 Kekuatan Seni yang Menggetarkan Hati


                Pementasan pertama yaitu Jaka Tarub pada Selasa 4 Oktober 2016 di Gedung Pusat lantai 7 Universitas PGRI Semarang menceritakan sebuah kisah tentang seorang pemuda dari desa bernama Jaka Tarub yang menikah dengan seorang bidadari dari kayangan.

                Cerita bermula dari seorang laki-laki tua bernama Jaka Tarub yang tengah tertidur di sebuah dipan di depan gubuknya, suatu malam ia memimpikan gadis pujaan hatinya yang telah merebut hatinya beberapa tahun silam. Nawang Wulan namanya, ia adalah seorang bidadari dari kayangan yang telah membuatnya jatuh hati hingga akhirnya menghalalkan seribu cara untuk mendapatkan Nawang Wulan, akhirnya Jaka Tarub dikaruniai seorang anak perempuan bernama Nawangsih dari buah cinta pernikahan dengan Nawang Wulan.
                Pementasan Jaka Tarub menggunakan alur mundur karena pada awal cerita menceritakan kisal masa sekarang pemeran utama dalam kisah tersebut dan selanjutnya menceritakan masa dulu atau lampau dari para tokohnya. Cerita dikemas sedikit berbeda dengan menambahkan beberapa unsur komedi didalamnya, kurang lebih berikut ceritanya.

                Dikisahkan seorang pemuda desa bernama Jaka Tarub yang tengah berburu ke arah sungai di dekat desanya, namun setelah lama menunggu hasil buruanpun tak didapatnya. Tiba-tiba ada hal yang tak terduga tertangkap oleh indera penglihatannya, Jaka Tarub melihat tujuh bidadari tengah terbang diatas sebuah sungai yang ia tempati sekarang. Secara langsung akhirnya Jaka Tarub bersembunyi dibalik batu yang besar, saat memperhatikan tujuh bidadari tersebut pandangan Jaka Tarub tertarik kepada salah satu bidadari yang telah menarik hatinya, hingga saat ketujuh bidadari itu turun kesungai dan melepas selendang Jaka Tarub terus memperhatikannya. Hingga muncul sebuah ide bahwa dia akan mengambil selendang milik salah satu bidadari tersebut.

                Selendang yang diambil oleh Jaka Tarub ternyata adalah milik seorang bidadari yang telah menarik hatinya sedari awal, Jaka Tarub masih terus bersembunyi di balik batu dan akhirnya menyaksikan bahwa bidadari tanpa selendang itu ditinggal pergi oleh keenam saudaranya. Akhirnya Jaka Tarub mencoba memperkenalkan diri dan memberikan sebuah pakain kepada bidadari yang diketahui bernama Nawang Wulan dan akhirnya menikahinya.

              Dikisahkan pula terdapat dua tokoh lucu bernama Tomo dan Topo, keduanya berniat mencalonkan diri menjadi lurah didesa tersebut. Kembali pada kisah Jaka Tarub, setelah menikah akhirnya Jaka Tarub dan Nawang Wulan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Nawangsih.

            Suatu hari Jaka Tarub yang baru pulang dari ladang merasa bingung karena sudah lama mereka tinggal bersama tapi persedian beras dilumbung tak kunjung habis, saat itu Nawang Wulan meminta izin kepada Jaka Tarub untuk mencuci pakaian disungai dengan memberi pesan bahwa selama Nawang Wulan pergi, Jaka Tarub tidak diperbolehkan untuk membuka panci yang tengah Nawang Wulan gunakan untuk memasak nasi. Karena penasaran akhirya Jak Tarub membuka tutup panci tersebut dan terkejut karena yang tengah dimasak oleh istrinya hanya sebatang beras dan akhirnya membuat Jaka Tarub semakin bingung.

              Setelah Nawang Wulan pulang dari sungai ia langsung diberondong pertanyaan oleh suaminya bahwa mengapa memasak nasi hanya menggunakan sebatang beras saja, Nawang Wulan langsung terkejut dan marah karena tindakan suaminya yang telah mengingkari janji dan akhirnya membuat sebuah rahasia besar terungkap bahwa Jaka Tarublah yang ternyata telah mencuri selendangnya, merasa dihianati akhirnya Nawang Wulan kembali ke kayangan meninggalkan Jaka Tarub dan putri mereka yaitu Nawangsih, karena sebagai seorang bidadari pantang menerima orang yang berbohong.

            Pementasan kedua yaitu Monolog Balada Sumarah pada Selasa 4 Oktober 2016 di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang yang menceritakan tentang kisah seorang perempuan bernama Sumarah Binti Sulaimat yang bekerja menjadi seorang TKW di Arab Saudi.

                Monolog Balada Sumarah membuat saya merasa tercengang karena cerita yang menggetarkan hati saya, membuat saya merasa terbang dan terbawa oleh alur dari cerita tersebut. Konflik yang terjadipun tergambar jelas dalam setiap adegan monolog yang dibawakan oleh tokoh Sumarah.

                Dikisahkan seorang perempuan bernama Sumarah seorang TKW di Arab Saudi yang menjadi pesakitan karena telah membunuh majikannya. Sumarah adalah seorang perempuan yang selalu dipandang remeh, dikucilkan, digunjingkan, oleh tetangga dan lingkungannya karena mereka beranggapan bahwa keluarga Sumarah adalah kelompok anggota PKI. Tetangga dan bahkan lembaga pemerintahan di tempat Sumarah tinggal mempersulit gerak-geriknya dengan alasan ini-itu yang selalu dikaitakan dengan ayahnya yang dianggap sebagai anggota PKI. Yang membuat hati Sumarah makin hancur ketika ayah Sumarah pergi entah kemana, ia ingin mengatakan pada Indonesia dan masyarakat sekitar tempat ia tinggal  bahwa ayahnya bukan anggota PKI hanya karena dulu ayahnya bekerja dengan menjual gula di koperasi milik KPI.

             Hingga akhirnya Sumarah memutuskan untuk pergi menjadi TKW di Arab Saudi berharap dikehidupannya yang sekarang akan terbebas dari bayang-bayang nama ayahnya. Tetapi harapan Sumarah untuk hidup bebas menjadi TKW kandas ketika ia menjadi korban kekerasan dan penyiksaan oleh majikannya di Arab Saudi, gaji Sumarah selama setahun tidak dibayarkan dengan alasan ini dan itu, bahkan yang lebih membuat hati Sumarah hancur adalah sang majikan dengan tega telah mermperkosanya, hingga akhirnya Sumarah merasa muak, marah, tersakiti, dan hancur sehancur-hancurnya yang kemudian membuatnya memutuskan untuk membunuh sang majilkan. Dan akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Arab Saudi.

_Indah Tri Wulan, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang.