Sabtu, 24 Desember 2016

Sastra Dan Bahasa

Sastra dan Bahasa

UPGRIS Bersasatra adalah salah satu rangkaian acara dalam rangka memperingati GebyarBulan Bahasa yang diadakan oleh Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang pada Rabu, 19 Oktober 2016 bertempat di Balairung Universitas PGRI Semarang. Dalam acara UPGRIS Bersastra tersebut terdapat 3 buku, 3 pembaca, dan 3 kritikus yang akan membedah buku karya Triyanto Triwikromo yang berjudul Bersepeda Ke Neraka, Selir Musim Panas, dan Sesat Pikir Para Binatang.

Beberapa narasumber yang ikut hadir diantaranya Triyanto Triwikromo, Muhdi, Sri Suciati, Asropah, Nur Hidayat, Prasetyo Utomo, Widyanuari Eko Putra. Dalam acara tersebut terdapat juga Biscuittime sebagai bintang tamu yang membawakan karya berupa musikalisasi puisi.

Dalam acara yang berlangsung dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB terdapat  serangkaian acara yang dibawakan oleh penampil guna menyemarakkan acara UPGRIS Bersastra tersebut. Acara yang pertama adalah penampilan dari Biscuittime yang dipersonili oleh Deska Setia Perdana, Yongki Arya Permana, dan Annisa Alpha Rizqiana yang membawakan karya-karya musikalisasi yang berjudul Aku Ingin Mencintaimu Tapi Tak Tahu Caranya, Soliloqui, Menjelma Puisi, Moksa. Ketiganya juga merupakan lulusan dari Universitas PGRI Semarang.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh lima orang mahasiswi secara bersamaan, namun sayang suasana di Balairung pada saat itu kurang kondusif karena hadirin terlalu sibuk dengan urusan masing-masing membuat kesan riuh ditambah pembacaan puisi yang kurang keras, sehingga pembacaan puisi oleh lima orang mahasiswi tersebut kurang diperhatikan dan kurang mendapat respon dari hadirin terlebih dibagian belakang.

Selanjutnya adalah pembacaan puisi oleh seorang pria yang menggunakan pakaian jawa lebih tepatnya kain lurik diiringi musik gamelan dan lagu jawa dikelilingi oleh beberapa penari perempuan yang juga mengenakan pakaian jawa dengan membawa topi caping, jaring. Kemudian muncul penari pria yang semakin memberi kesan kejutan dalam penampilan mereka. Pembacaan puisi tersebut dapat menarik perhatian para hadirin dari yang semula bising menjadi tepukan tangan riuh karena sang penampil yang menampilkan karya tak terduga dan dapat membius hadirin yang datang.

Setelah acara tersebut selanjutnya adalah acara inti yaitu mengenai UPGRIS Bersastra 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus dan 1 penulis. Pembacaan buku pertama dilakukan oleh Rektor Universitas PGRI Semarang yang diawali dengan sang rektor yang memainkan gitar dengan cukup menghibur para hadirin yang datangdengan petikan gitar disertakan nyanyian yang berisi nasehat kepada kaum muda agar hidup lurus, agar kaum muda tidak salah memilih dalam hidup.Beberapakutipan yang dibacadalam buku tersebut “Takziah” yang berisi gambaran manusia yang pasti akan meninggal, “Mereka Memalsukan Kisah” yang berisi tentang banyak orang yang berpura-pura, tidakmenjadidirisendiri, tidakmenjadipribadi yang menggambarkansifataslimereka.

Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan buku dari Triyanto Triwikromo yang berjudul “Selir Musim Panas” oleh Sri Suciati yang didampingi oleh mahasiswi dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris yang bernama Erda dengan iringan tembang jawa yang sangat merdu. Keduanya sangat serasi dan kompak saat membawakan kolaborasi tersebut. Sri Suciati mengatakan bahwa puisi karya Triyanto Triwikromo sangat bagus.

Dalam acara UPGRIS Bersastra terdapat 3 kritikus yang membedah buku karya Triyanto Triwikromo yaitu Nur Hidayat yang mengatakan bahwa “Triyanto Triwikromo adalah pelintas batas atau bisa dikatakan telah melampaui batas-batas jurnalisme dan sastra” selanjutnya adalah Prasetyo Utomo yang mengatakan bahwa “buku yang hanya dapat dipahami oleh sebuah teori, teori bernama struktural genetik, tonkinemton, ada sesuatu yang mengapung dalam diri Triyanto Triwikromo”. Kemudian yang terakhir adalahWidyanuari Eko Putro yang mengatakan bahwa “jika ingin mengetahui isi dari salah satu buku Triyanto Triwikromoharuslah membacanya dari awal atau bisa dikatakan jika ingin paham mengenai salah satu buku Triyanto Triwikromo haruslah membacanya dari buku yang pertama dilanjut buku kedua, ketiga, dan seterusnya karena jika langsung membaca dari satu buku saja akan sulit memahaminya. Bisa dikatakan karya-kara Triyanto saling berkaitan”.

Triyanto Triwikromo mengatakan bahwa beliau sangat gemetar saat berada diatas panggung Balairung, padahal notabene beliau telah lebih dulu melalang buana di panggung-panggung lain namun beliau mengatakan rasanya berbeda. Beliau juga merasa bahagia bisa dipertemukan dengan teman-teman dari Universitas PGRI Semarang. Beliau juga mengatakan di tahun yang lalu bahwa beliau memilih untuk terjun ke jalur sastra, berlomba-lomba memenuhi kebutuhan manusia. Beberapa karya beliau juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, Swedia, Prancis, dll. Sungguh dalam acara UPGRIS Bersastra tersebut banyak sekali ilmu-ilmu yang didapat oleh penulis. Semoga tulisan penulis dapat bermanfaat. Terima Kasih.


-Indah Tri Wulan, 3D/PBSI Mahasiswa Universitas PGRI Semarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar