Tren Wisata Alam atau Kekinian
Menanggapi opini dari Isai Yusidarta Fungsional Pengendali
Ekosistem Hutan (PEH) Balai Taman Nasional Karimunjawa yang berjudul “Tren
Wisata Mandiri di Karimunjawa” yang dimuat dalam Koran Tribun Jateng edisi
Senin, 19 September 2016. Jika dilihat
dari kata wisata apa yang terlintas dalam benak kita? Apakah wisata adalah
suatu sarana rekreasi? Apakah wisata suatu sarana penghibur diri? Apakah wisata
sebagai kebutuhan?. Benar yang dikatakan oleh Isai Yusidarta bahwa “perjalanan
wisata menjadi kebutuhan khususnya masyarakat perkotaan, terdapat asumsi bahwa
selain empat sehat lima sempurna perjalanan wisata merupakan pelengkap untuk
hidup sehat (paragraph 1)”. Perjalanan wisata memang dapat dikatakan sebagai suatu
kebutuhan karena dengan melakukan perjalanan wisata kita dapat kembali merefresh
otak, dengan kata lain saat kita melakukan perjalanan wisata diharapkan
mampu mengembalikan kesegaran pada badan dan pikiran kita setelah sibuk dengan
berbagai rutinitas yang ada.
Kemajuan teknologi dikatakan menjadi
peran penting yang telah mendorong pergeseran perjalanan wisata dari yang awal
mulanya perjalanan wisata diperkotaan seperti wisata buatan dan lain sebagainya
tergantikan oleh tren wisata yang berbau nuansa alam. Benar adanya jika
dikatakan bahwa kemajuan teknologi berperan penting karena kita sendiri tahu
bahwa akhir-akhir ini terdapat tren bahwa perjalanan wisata alam lebih diminati
oleh masyarakat, terlebih banyak sekali referensi-referensi pendukung seperti
di sosial media dan lain sebagainya yang menambah daya tarik perjalanan wisata
alam. Mungkin bisa dikatakan bahwa perjalanan wisata yang menyajikan
pemandangan alam sedang menjadi trending topik dikalangan masyarakat beberapa
tahun belakang, bahkan ada yang mengatakan dengan istilah “agar kekinian”.
Sudah menjadi hal umum bahwa tren
wisata ini berkembang pesat dikalangan masyarakat terlebih sekarang yang
terjadi di daerah saya juga demikian sama. Banyak sekali bukit-bukit yang
sebenarnya bisa dikatakan fungsinya bukan
tempat wisata karena memang fungsi aslinya menjadi lahan pertanian namun akibat
perkembangan zaman dan pergeseran perjalanan wisata ditambah lagi
dukungan-dukungan disosial media menjadikan banyak masyarakat ingin mengunjungi
tempat tersebut hingga akhirnya berkmbang tren bahwa bukit itu menjadi tempat
wisata.
Terlepas dari tren wisata yang
berkembang sekarang sebenarnya baik perjalanan wisata diperkotaan atau
perjalanan wisata alam sekalipun hendaknya kita ikut bersama-sama menjaganya
terlebih masih banyak ditemukan vandalisme atau perusakan terhadap objek-objek
wisata oleh tangan-tangan jahil pengunjung wisata yang kurang bertanggung jawab
baik ditempat wisata yang dijaga oleh petugas maupun tidak dijaga oleh petugas.
Seharusnya bukan hanya sekadar datang, menikmati pemandangan, mengabadikan
momen, dan membaginya saja, tapi lebih dari itu jika kita memang terbawa arus
tren kekinian hendaknya diselingi dengan rasa tanggung jawab yang tinggi pula
untuk tren melestarikan alam.
-Indah Tri Wulan, Mahasiswa Universita PGRI Semarang Pendidikan Bahasa Dan Sastra
Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar