Sabtu, 24 Desember 2016

Tren Wisata Alam Atau Kekinian

Tren Wisata Alam atau Kekinian

            Menanggapi opini dari Isai Yusidarta Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Taman Nasional Karimunjawa yang berjudul “Tren Wisata Mandiri di Karimunjawa” yang dimuat dalam Koran Tribun Jateng edisi Senin, 19 September 2016.  Jika dilihat dari kata wisata apa yang terlintas dalam benak kita? Apakah wisata adalah suatu sarana rekreasi? Apakah wisata suatu sarana penghibur diri? Apakah wisata sebagai kebutuhan?. Benar yang dikatakan oleh Isai Yusidarta bahwa “perjalanan wisata menjadi kebutuhan khususnya masyarakat perkotaan, terdapat asumsi bahwa selain empat sehat lima sempurna perjalanan wisata merupakan pelengkap untuk hidup sehat (paragraph 1)”. Perjalanan wisata memang dapat dikatakan sebagai suatu kebutuhan karena dengan melakukan perjalanan wisata kita dapat kembali merefresh otak, dengan kata lain saat kita melakukan perjalanan wisata diharapkan mampu mengembalikan kesegaran pada badan dan pikiran kita setelah sibuk dengan berbagai rutinitas yang ada.

            Kemajuan teknologi dikatakan menjadi peran penting yang telah mendorong pergeseran perjalanan wisata dari yang awal mulanya perjalanan wisata diperkotaan seperti wisata buatan dan lain sebagainya tergantikan oleh tren wisata yang berbau nuansa alam. Benar adanya jika dikatakan bahwa kemajuan teknologi berperan penting karena kita sendiri tahu bahwa akhir-akhir ini terdapat tren bahwa perjalanan wisata alam lebih diminati oleh masyarakat, terlebih banyak sekali referensi-referensi pendukung seperti di sosial media dan lain sebagainya yang menambah daya tarik perjalanan wisata alam. Mungkin bisa dikatakan bahwa perjalanan wisata yang menyajikan pemandangan alam sedang menjadi trending topik dikalangan masyarakat beberapa tahun belakang, bahkan ada yang mengatakan dengan istilah “agar kekinian”.

            Sudah menjadi hal umum bahwa tren wisata ini berkembang pesat dikalangan masyarakat terlebih sekarang yang terjadi di daerah saya juga demikian sama. Banyak sekali bukit-bukit yang sebenarnya bisa dikatakan  fungsinya bukan tempat wisata karena memang fungsi aslinya menjadi lahan pertanian namun akibat perkembangan zaman dan pergeseran perjalanan wisata ditambah lagi dukungan-dukungan disosial media menjadikan banyak masyarakat ingin mengunjungi tempat tersebut hingga akhirnya berkmbang tren bahwa bukit itu menjadi tempat wisata.

            Terlepas dari tren wisata yang berkembang sekarang sebenarnya baik perjalanan wisata diperkotaan atau perjalanan wisata alam sekalipun hendaknya kita ikut bersama-sama menjaganya terlebih masih banyak ditemukan vandalisme atau perusakan terhadap objek-objek wisata oleh tangan-tangan jahil pengunjung wisata yang kurang bertanggung jawab baik ditempat wisata yang dijaga oleh petugas maupun tidak dijaga oleh petugas. Seharusnya bukan hanya sekadar datang, menikmati pemandangan, mengabadikan momen, dan membaginya saja, tapi lebih dari itu jika kita memang terbawa arus tren kekinian hendaknya diselingi dengan rasa tanggung jawab yang tinggi pula untuk tren melestarikan alam.

-Indah Tri Wulan, Mahasiswa Universita PGRI Semarang Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar