Tugas
Menganalisis Drama
“Mengancam Kenangan”
“Kenangan sepertinya bersekutu
dengan pagi untuk hadir setiap hari,tapi ternyata mereka berdua tidak mengusik,tidak
juga berisik”
Bermula disuatu pagi yang terlihat seperti senja,matahari
malu-malu untuk mengucapkan Selamat Pagi. Tangan setengah tua menggenggam
gagang sapu bak tentara mengangkat senjata. Sama sekali tidak terlihat gemetar
untuk menyapu kerikil-kerikil di ubin teras rumahnya.
Pagi mengucapkan selamat pagi pada Nyonya.
Sedangkan nyonya terlalu asik untuk membersihkan teras
rumahnya,dimana laki –laki kecil pernah menapak disana berama sepasang kaki
besar yang tidak pernah absen menemani,seperti ada sesuatu yang turut dalam
ijuk sapunya kekanan kekiri,terbuang bergabung bersama debu.
Sedangkan nyonya berusaha memilah-milah debu mana yang
harus ia buang karena hasil serpihan dari kerikil dan debu mana yang pernah
menempel di telapak kaki.
Nyonya sibuk memperbaiki pagi, pagi justru sibuk mencari perhatian
Nyonya dengan mengucapkan selamat pagi.
Itulah beberapa kalimat dari
kutipan Drama yang
berjudul "Mengancam Kenangan" karya Iruka Danishwara yang di
sutradarai oleh Ibrahim.
Naskah
"Mengancam Kenangan" karya Iruka Danishwara merupakan tafsiran atau
representasi kejemuan siapapun dalam menyikapi kenangan,karena yang memiliki
kenangan bukan hanya manusia tapi seluruh makhluk hidup bahkan benda atau
apapun yang berhak memiliki kenangan.
Naskah
"Mengancam Kenangan" merupakan tumpukan dan benturan antara kenangan
satu dengan kenangan yang lainnya yang berintegrasi,saling melilit.
"Mengancam
Kenangan" meminta untuk diurai,ditarik satu persatu 'Lilitan' kenangan
tersebut agar kita memosisikan kenangan secara tepat dan akhirnya kita bisa
menyikapi kenangan dengan bijak,jika berdamai atau melawan kenangan merupakan
sebuah kekonyolan,maka "Mengancam Kenangan" menjadi alternatif,karena
mengatur kenangan pun sangat tidak memungkinkan.
Naskah
"Mengancam Kenangan" memang tidak memberi ruang kita untuk rehat
berpikir serta sejenak mendiamkan perasaan karena tumpukannya terlampau padat.
Dari
yang saya amati dalam drama "Mengancam Kenangan" tersebut menggunakan
alur Campuran,Karena kejadiannya menceritakan masa sekarang dan masa lalu yang
tergambarkan dalam cerita tersebut.
Menurut
saya jalan cerita dari drama "Mengancam Kenangan" kurang dapat saya
pahami karena terlalu banyak menggunakan bahasa kias,ceritanya pun mengapung
dalam artian tidak dapat disimpulkan kecuali dengan analisis yang tepat.
Dialog-dialog
yang digunakan oleh pemain juga terlepas dari dunia real atau dalam arti
sesungguhnya (Deklamasi).
Dari
penokohan pun dapat saya simpulkan "Nyonya" seorang perempuan
setengah tua yang selalu mengingat tentang masa lalu lewat pigura pigura
disetiap sudut ruang tamunya,perempuan yang selalu menunggu sang lelakinya yang
belum kembali.
Namun
tidak hanya manusia tetapi debu-debu juga ikut serta dalam penokohan
tersebut,seperti yang tergambar dalam cerita tersebut debu tidak hanya menjadi
seonggok debu,namun dalam cerita ini debu bisa menggambarkan suatu keadaan
dimasa lalu yang tergambar jelas seperti menjadi anak kecil,dan masih banyak
lagi.
Saya
juga dapat saya menyimpulkan dalam drama "Mengancam Kenangan" banyak
menggunakan kata kias seperti Ruang Tamu yang diartikan sebagai kita sebagai
manusia memiliki banyak kenangan tentang siapa yang datang atau pergi dari
hidup kita,dan itu tergambarkan dalam ruang tamu,ada juga Bak Mandi yang
menggambarkan diri manusia yang jika diisi dengan kenangan maka kenangan dalam
diri kita menjadi semakin banyak.
Konflik yang terjadi dalam
drama “Mengancam Kenangan” juga mengarah ke konflik batin tokoh utama,seperti
dari dialog-dialog yang terjadi.
-Indah Tri Wulan, Mahasiswa Universitas PGRI Semarang
-Indah Tri Wulan, Mahasiswa Universitas PGRI Semarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar