Selasa, 13 Oktober 2015

Tugas Menganalisis Drama “Mengancam Kenangan”




Tugas Menganalisis Drama

Mengancam Kenangan


“Kenangan sepertinya bersekutu dengan pagi untuk hadir setiap hari,tapi ternyata mereka berdua tidak mengusik,tidak juga berisik”

Bermula disuatu pagi yang terlihat seperti senja,matahari malu-malu untuk mengucapkan Selamat Pagi. Tangan setengah tua menggenggam gagang sapu bak tentara mengangkat senjata. Sama sekali tidak terlihat gemetar untuk menyapu kerikil-kerikil di ubin teras rumahnya.
Pagi mengucapkan selamat pagi pada Nyonya.
Sedangkan nyonya terlalu asik untuk membersihkan teras rumahnya,dimana laki –laki kecil pernah menapak disana berama sepasang kaki besar yang tidak pernah absen menemani,seperti ada sesuatu yang turut dalam ijuk sapunya kekanan kekiri,terbuang bergabung bersama debu.
Sedangkan nyonya berusaha memilah-milah debu mana yang harus ia buang karena hasil serpihan dari kerikil dan debu mana yang pernah menempel di telapak kaki.
Nyonya sibuk memperbaiki pagi, pagi justru sibuk mencari perhatian Nyonya dengan mengucapkan selamat pagi.


Itulah beberapa kalimat dari kutipan Drama yang berjudul "Mengancam Kenangan" karya Iruka Danishwara yang di sutradarai oleh Ibrahim.

Naskah "Mengancam Kenangan" karya Iruka Danishwara merupakan tafsiran atau representasi kejemuan siapapun dalam menyikapi kenangan,karena yang memiliki kenangan bukan hanya manusia tapi seluruh makhluk hidup bahkan benda atau apapun yang berhak memiliki kenangan.

Naskah "Mengancam Kenangan" merupakan tumpukan dan benturan antara kenangan satu dengan kenangan yang lainnya yang berintegrasi,saling melilit.
"Mengancam Kenangan" meminta untuk diurai,ditarik satu persatu 'Lilitan' kenangan tersebut agar kita memosisikan kenangan secara tepat dan akhirnya kita bisa menyikapi kenangan dengan bijak,jika berdamai atau melawan kenangan merupakan sebuah kekonyolan,maka "Mengancam Kenangan" menjadi alternatif,karena mengatur kenangan pun sangat tidak memungkinkan.

Naskah "Mengancam Kenangan" memang tidak memberi ruang kita untuk rehat berpikir serta sejenak mendiamkan perasaan karena tumpukannya terlampau padat.

Dari yang saya amati dalam drama "Mengancam Kenangan" tersebut menggunakan alur Campuran,Karena kejadiannya menceritakan masa sekarang dan masa lalu yang tergambarkan dalam cerita tersebut.

Menurut saya jalan cerita dari drama "Mengancam Kenangan" kurang dapat saya pahami karena terlalu banyak menggunakan bahasa kias,ceritanya pun mengapung dalam artian tidak dapat disimpulkan kecuali dengan analisis yang tepat.

Dialog-dialog yang digunakan oleh pemain juga terlepas dari dunia real atau dalam arti sesungguhnya (Deklamasi).

Dari penokohan pun dapat saya simpulkan "Nyonya" seorang perempuan setengah tua yang selalu mengingat tentang masa lalu lewat pigura pigura disetiap sudut ruang tamunya,perempuan yang selalu menunggu sang lelakinya yang belum kembali.


Namun tidak hanya manusia tetapi debu-debu juga ikut serta dalam penokohan tersebut,seperti yang tergambar dalam cerita tersebut debu tidak hanya menjadi seonggok debu,namun dalam cerita ini debu bisa menggambarkan suatu keadaan dimasa lalu yang tergambar jelas seperti menjadi anak kecil,dan masih banyak lagi.

Saya juga dapat saya menyimpulkan dalam drama "Mengancam Kenangan" banyak menggunakan kata kias seperti Ruang Tamu yang diartikan sebagai kita sebagai manusia memiliki banyak kenangan tentang siapa yang datang atau pergi dari hidup kita,dan itu tergambarkan dalam ruang tamu,ada juga Bak Mandi yang menggambarkan diri manusia yang jika diisi dengan kenangan maka kenangan dalam diri kita menjadi semakin banyak.

Konflik yang terjadi dalam drama “Mengancam Kenangan” juga mengarah ke konflik batin tokoh utama,seperti dari dialog-dialog yang terjadi.

-Indah Tri Wulan, Mahasiswa Universitas PGRI Semarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar